Contoh Teks Anekdot Pendidikan

Contoh Teks Anekdot Pendidikan – Anekdot pendidikan merupakan suatu karya anekdot yang membahas mengenai tema atau fenomena nyata dalam dunia pendidikan.

Pengertian Teks Anekdot Pendidikan

Secara sederhana, teks anekdot pendidikan merupakan suatu karya anekdot yang membahas isu-isu, permasalahan atau fenomena nyata dalam wacana dunia pendidikan.

Teks anekdot pendidikan ini penting untuk dipergunakan sebagai salah satu media yang bisa mengkritik secara efisien sekaligus lucu mengenai segala jenis fenomena yang mengganjal di dunia pendidikan.

Bentuk dari teks anekdot pendidikan ini bisa berupa cerita pendek, cerita lucu, gambar ilustrasi, komik, meme, karikatur, dan lain sebagainya.

Contoh Teks Anekdot Pendidikan 1 “Pekerjaan Rumah”

Pada suatu hari di sebuah sekolah, seorang guru menegur siswanya yang tidak mengerjakan PR

Guru   : Jono, kamu tahu apa kesalahanmu hari ini?

Jono   : Tidak Pak!

Guru   : Kamu tidak mengerjakan PR yang bapak berikan minggu yang lalu. Itu kesalahanmu!

Jono   : Saya tidak mengerti Pak?!

Guru   : Kamu itu bodoh atau mau membangkang teguran bapak, hah?!

Jono   : Apa salah saya Pak?! Bukankah bapak yang bilang minggu kemaren waktu saya melamun bahwa tidak baik ketika di sekolah masih kepikiran dengan hal-hal di luar sekolah, apalagi mengerjakan hal-hal di luar pelajaran…

Guru   : (langsung memotong) Ya itu memang tidak baik!

Jono   : (kalem) Itu yang saya terapkan pak. Bila tidak baik mengerjakan pekerjaan lain di luar mata pelajaran sekolah di sekolah, maka tidak baik pula mengerjakan pekerjaan sekolah di rumah, apa lagi di rumah saya banyak pekerjaan pak, saya harus membantu orang tua saya mencari nafkah, ayah saya sakit keras, tiga adik saya masih kecil, sementara jika saya mengerjakan pekerjaan dari sekolah, artinya saya tidak bisa mencari nafkah. Karena itulah saya tidak mengerti letak kesalahan saya pak. Maaf…

Guru   : (tertegun dan tidak bisa bilang apa-apa).

Analisis Strukturnya

Bila kita periksa struktur contoh anekdot tersebut, maka kita akan mendapati abstraksi atau bagian pembuka tepat pada awal cerita yang memberikan gambaran singkat mengenai poin utama cerita.

Abstraksi ini disusul dengan konflik melompat langsung pada bagian inti isi teks yang muncul pada dialog pertama hingga dialog ketika Jono sekali lagi mempertanyakan kesalahannya.

Teks ditutup dengan gong atau koda yang ditandai dengan ujaran si Jono yang menceritakan alasannya tidak bisa mengerjakan PR.

Penjelasannya

Contoh di atas merupakan anekdot yang mengkritik sistem pendidikan kita yang mana (barangkali tanpa disadari) para guru selalu memberikan PR yang melimpah pada para siswanya.

Bila misalnya dalam 1 hari ada 4 mata pelajaran dan tiap-tiap mata pelajaran ada PR yang tak selesai dikerjakan dalam dua jam, bukankah siswa hanya akan habis waktunya untuk mengerjakan soal-soal pelajaran sekolah? Lalu kapan siswa ini mempelajari hal lain dalam hidup bermasyarakat?

Kisah si Jono (nama samaran) ini barangkali juga pernah teman-teman alami; yakni ketika kita juga dituntut untuk mengerjakan sesuatu di rumah atau bahkan membantu orang tua kita bekerja mencari nafkah.

Pada situasi tersebut, kita hanya memiliki pilihan yang sulit, bila tidak mengerjakan PR maka ada hukuman menanti di sekolah, baik itu berupa sindiran ataupun hukuman fisik seperti push up, berdiri di kelas, membersihkan WC, dll, sementara jika kita tidak membantu orang tua, jelas kita juga yang akan mendapatkan dampaknya.

Contoh Teks Anekdot Pendidikan 2 “Reaksi Kimia”

Suatu hari di sekolah dalam mata pelajaran kimia, seorang guru menguji murid-muidnya dengan memberikan pertanyaan:

Guru   : Susi, sebutkan contoh reaksi kimia yang sudah kamu tahu.

Susi   : Dalam proses pembuatan bioetanol, glukosa diubah menjadi alcohol melalui proses fermentasi dengan salah satu rumusan C6H12O6 — > 2C2H5OH+2CO2+2NADH2+Energi

Guru   : Bagus sekali susi, sekarang Juki, sebutkan contoh yang lain!

Juki waktu itu sedang melamun. Maklum ia belum sarapan gara-gara bangun kesiangan, padahal ibunya membuatkan nasi pecel yang sangat enak untuk sarapan keluarga. Maka, juki tidak berkonsentrasi dengan pertanyaan gurunya dan iapun menjawab sekenanya.

Juki   : beras dimasak menjadi nasi pak, lalu tempe mentah dicampur garam, bawang, dan ketumbar kemudian digoreng rasanya sangat gurih.

Bila nasi dan tempe ini dipadukan dan ditambah dengan sambal pecel serta rebusan sayur dan kecambah, perbaduan beberapa unsur tersebut menjadi sarapan yang istimewa pak!

Kontan seluruh kelas riuh karena tertawa

Guru   : Tenang…tenang…jangan ramai. Juki, kenapa jawabanmu demikian?

Juki   : Itu reaksi kimiawi pak.

Guru   : Maksudmu?

Juki   : Bukankah bapak bilang bahwa semua proses pembuatan makanan merupakan proses kimiawi? Saya kira jawaban saya tadi merupakan jawaban yang paling mudah dimengerti tanpa harus menggunakan lambang rumus kimia yang bikin lapar pak.

Sekali lagi semua murid tertawa melihat kelakuan Juki yang spektakuler.

Analisis Strukturnya

Mari kita analisis terlebih dahulu struktur dari anekdot ini.

Abstraksi muncul pada paragraph paling awal yang disusul langsung dengan bagian orientasi pada dialog pertama antara pak guru dengan susi.

Orientasi ini terus berlangsung sampai seluruh kelas menertawakan Juki.

Setelah itu merupakan bagian konflik alias aksi reaksi utama antara tokoh utama cerita, tentu saja konflik ini ditandai dengan reaksi pak guru ketika mendengar jawaban Juki yang terkesan asal-asalan.

Teks tersebut ditutup dengan koda atau bagian penyelesaian yang dimunculkan pada dialog terakhir si Juki yang menjelaskan asal-usul dari jawabannya pada pak Guru.

Penjelasannya

Nah, teman-teman, sebagaimana yang dikisahkan dalam teks anekdot tersebut, apakah teman-teman pernah terteror dengan pelajaran eksak seperti kimia, fisika dan biologi?

Dalam mata-pelajaran tersebut, tak jarang kita mendapatkan pengetahuan yang benar-benar bikin pusing, yakni nama-nama ilmiah atau rumus-rumus asing yang sulit masuk ke dalam kepala karena memang kita tidak terbiasa dengan hal tersebut.

Jawaban si Juki dalam anekdot tersebut sebetulnya merupakan jawaban yang kritis; tak jarang guru mengajarkan siswanya dengan bahasa yang sulit dipahami.

Banyak yang alergi dengan mata pelajaran kimia karena salah satu sebabnya adalah guru jarang memberikan ilustrasi sehari-hari terkait dengan bilangan kimia, rumus kimia, atau apapun itu dalam bentuk wujud yang bisa ditemukan dalam keseharian, padahal hampir semua jenis benda dan barang-barang disekitar kita tak lepas dari proses kimiawi.

Contoh Teks Anekdot Pendidikan 3 “Merokok”

Di suatu sekolah SMA, para murid sudah mengetahui (meski tidak berani membicarakannya secara langsung pada guru lain) bahwa guru BK yang satu itu tidak beres.

Gosipnya pak guru BK itu mengalami kelainan seksual sehingga doyan sama murid laki-laki. Konon, ia pernah menghukum salah satu siswa yang ketahuan merokok dengan perbuatan yang tidak senonoh.

Pagi itu adalah pagi yang sial bagi Budi (anak paling bandel dan ditakuti kawan-kawannya karena senang memukul); karena jam pertama adalah jam kosong, maka ia sembunyi di kamar mandi untuk menghabiskan sebatang rokok, namun kebetulan pula bapak guru BK itu sedang lewat dan mencium bau rokok.

Diantara sekian kamar mandi, hanya ada satu kamar mandi yang tertutup dan disanalah Budi merokok. Tentu bukan hal sulit bagi pak guru untuk mengetahui sumber bau rokok tersebut. Maka pak guru menunggu di luar.

Setelah Budi selesai menghabiskan rokok, ia langsung membuka pintu kamar mandi dan saat itu pula ia kaget melihat tampang mesum pak guru BK yang sedang menunggu diluar sambil tersenyum sinis.

Pak Guru   : Yak, anda ketahuan. Ayo langsung saja ke ruangan bapak.

Budi tidak berkutik dan diam seribu bahasa mengikuti pak guru BK ke ruangannya.

Pak Guru   : Budi, kamu tahu bukan kalau di sekolah dilarang merokok?!

Budi             : Tahu Pak…

Pak Guru   : Sudah siap dihukum?

Budi             : Hukuman apa pak?

Pak Guru   : Kamu pilih merokok rokok bapak di ruangan ini atau dilaporkan ke kepala sekolah?

Budi             : Memangnya bapak merokok?

Pak Guru   : (membentak) kamu pilih hukuman mana?

Budi             : Merokok saja deh pak…(bingung dengan hukuman itu karena mestinya kan tidak disuruh merokok)

Pak Guru   : Baiklah, sekarang buka celanamu!

Budi             : (Seketika langsung paham dengan “rokok” yang dimaksud bapak) Ampun Pak…sa…sa…saya pilih dilaporkan ke kepala sekolah saja pak…saya tidak akan merokok lagi di sekolah…ampun Pak…

Analisis Strukturnya

Yuk kita ulas dahulu struktur dari teks anekdot pendidikan tersebut.

Abstraksi muncul pada narasi di bagian pragraf pertama. Kemudian orientasi mulai dimunculkan pada paragraph ketiga dan berakhir ketika Budi ketahuan merokok oleh pak guru.

Konflik dimulai ketika Budi diajak pak Guru BK ke ruangannya dan konflik ini berisi aksi-reaksi satir antara guru dan murid. Bagian koda atau akhir cerita ditandai lewat ujaran Budi yang memohon ampun pada gurunya.

Penjelasannya

Nah teman-teman, apakah teman-teman juga pernah dengar ada kasus guru cabul yang mencabuli beberapa muridnya?

Berita ini sempat menghebohkan lho dan disorot diberbagai media karena korbannya adalah anak-anak. Namun yang jelas, anekdot ini dibuat sebagai fiksi yang terinspirasi dari kisah nyata pencabulan siswa oleh guru.

Tak hanya itu sebenarnya, saat ini bentuk kekerasan sebagai hukuman kepada siswa telah dilarang dan tak sedikit kasus guru yang dilaporkan ke polisi karena memukul siswanya.

Hal ini dilematis sebenarnya, di satu sisi, siswa yang benar-benar bandel memang harus dihukum, namun sayangnya kok siswa-siswa ini hanya kapok dengan hukuman yang sifatnya fisik (utamanya adalah siswa-siswi SD).

Namun demikian, kekerasan fisik terhadap siswa memang tidak semestinya dilakukan, terlebih jika kekerasan fisik tersebut dinilai keterlaluan.

Anekdot ini sekligus berupaya untuk mengingatkan para guru agar lebih kreatif dalam memberikan hukuman; bukan hukuman fisik namun efisien untuk meredam kebandelan siswa, apa ya kira-kira? Inilah tantangan para guru.

Demikian penjelasan yang di tuliskan pada artikel di atar tentang pengertian, contoh teks anekdot pendidikan beserta strukturnya. Anda bisa membuat anekdot bertema pendidikan. Semoga membantu!

X CLOSE
Advertisements
X CLOSE
Advertisements
Gambar Gravatar
Haloo! Perkenalkan saya irvando, ijinkan saya untuk menulis artikel yang bermanfaat untuk kalian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.